peMuluNg saHabaT buMi (bag. kedua)
Untuk sampah basah kita bisa membuatnya menjadi kompos. (untuk pembuatan kompos saya belum paham sehingga belum bisa berbagi cerita, barangkali ada teman-teman yang mengerti mohon saya di tag cara pembuatan kompos yang sederhana), dan untuk sampah kering seperti plastik, bekas botol air minum mineral, botol kecap , gelas pecah ataupun panci penyok dkknya dapat kita kumpulkan tersendiri.
Nah setelah seminggu kita kumpulkan pasti menumpuk tuh sampah keringnya, panggilah pak jo sang pemulung budiman,, yang selalu tertawa sumringah melihat gundukan plastik dan botol-botol di kranjang sampah.
Jika kita rajin melakukan hal tersebut ada dua kebaikan yang dapat kita petik.
Pertama : kita menolong pemulung untuk tetap dapat membeli makan dan keperluan hidupnya.
Kedua : kita membantu bumi untuk tetap tersenyum.
Menjadi teringat cerita di buku ESQ Ari Ginanjar :
Ada pengusaha yang kaya raya kebingungan memecahkan masalah tidak adanya seseorang yang mengantar putrinya untuk bersekolah, setelah berpikir-pikir panjang menilai baik dan buruknya, untung dan ruginya, sang pengusaha memutuskan untuk membeli becak dan mencari seseorang menjadi tukang becaknya dengan perjanjian tukang becak tersebut bertugas untuk mengantar dan menjemput putrinya dari sekolah tiap hari, sebagai upahnya sang tukang becak diperbolehkan mencari penumpang diluar jam kerjanya mengantar jemput tersebut. Masalah terpecahkan dengan membawa 2 keuntungan, sang putri ada yang mengantar jemput dan memberi nafkah bagi seorang bapak. Padahal secara materi pengusaha tersebut bisa saja menyewa jasa antar jemput yang sekarang lagi marak. Itulah berpikir secara komprehensif..jaman sudah berubah, modernisasi dimana-mana, kepraktisan dijunjung tinggi, tapi setidaknya kita bisa menyelipkan di otak kita untuk lebih berpikir komprehensif seperti pengusaha diatas sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih manusiawi.
Tentang pemulung saya mendapat joke dari teman saya bernama Parto Suparto, begini : (tentunya setelah mengalami pengeditan)
Di mulut Gang Mahameru, ketua RT 007, Rudy Panjol nulis di sekeping papan sebuah pengumuman:
“PEMULUNG DILARANG MASUK….!!”
Seorang pemulung berkaos merah kumal yang didapat dari kampanye sebuah partai yang katanya pro wong cilik seperti dirinya (yg memang kurus kering dan tidak seperti pengurus partainya yg over size) termangu membaca tulisan pak RT.
“Apakah salah dan dosaku sehingga pak RT begitu kejam padaku? Padahal aku kan tidak membebani pemerintah dengan minta disediakan kerjaan..?? dan lagi kalo semua sampah aku punguti, bumi akan tersenyum bangga padaku…….
Dengan agak kesal si pemulung menempelkan sepotong plywood di bawah papan pengumaman Pak RT. Dengan arang dia mulai menulis:
” KALO GAK BOLEH MASUK,
KELUARKAN BARANG2 BEKAS
& TARUH DI SINI….!!!”
Sore hari sepulang dari kerja, Pak RT marah ketika membaca tulisan si pemulung. Dia ambil lagi sekeping papan dan ditulisinya:
”SONTOLOYO………
MEMANGNYA KAMU INI SIAPA…..??
BERANI2 NYURUH KETUA RT…!!”
Keesokan harinya, kembali si pemulung menimpali kekesalan pak RT:
”LHA KALO GAK MAU DISURUH-SURUH…….
YA JANGAN LARANG AKU MASUK…!!”
Sambil mlintir kumis karena geram….., Pak RT ambil sekeping papan lagi dan mulai untuk menulis lagi…………
Tapi………, dia ragu apa yang mau dia tulis……
Akhirnya, dari dalam sakunya diambilnya sebuah hp (warna casingnya koq pink…? Gak ‘mecing’ karo kumise rek…!). Dia mulai menghubungi temen2 SMA2 dulu……minta saran apa lagi yang harus ditulis untuk membalas sang pemulung.
Cerita ini diambil dari kisah nyata, belum dibukukan dan belum difilmkan…………
Come on guys !!! stop kecuwekan kita pada lingkungan, bumi menanti uluran kasih kita, ayo kita melek hati, melek mata dan melek lingkungan. Jangan biarkan hati kita menjadi fosil tak ber-evolusi, karena bencana akan mendekati siapa saja yang memilih diam.
Sudah saatnya kita memasukkan Satpol PP kedalam otak kita supaya dapat mementhungi keegoisan kita, mendobrak kecuwekan kita dan membongkar kemalasan kita.
Mari berubah dari rumah sendiri seperti amanah 3M nya Aa Gym
- Mulai dari diri sendiri
- Mulai dari hal terkecil
- Mulai dari sekarang
peMuluNg saHabaT buMi (bag. pertama)
Kesemua data tersebut diatas disajikan dalam angka yang saya sendiri kadang-kadang bingung menganalisanya, apalagi orang-orang seperti yu Mar penjual nasi mangut di trotoar depan rumah, mbak Ning penjual aqua dan rokok serta berbagai makanan ringan dalam bungkus kemasan aluminium, serta Gembes sang penguasa penumpang jurusan Solo yang selalu buang plastik bekas bungkus es teh seenaknya.
boro-boro mereka ngerti data-data tersebut, wong dengar istilah pemanasan global saja mereka mlongo, apalagi mendengar istilah “Global Warming”,, “opo to kuwi bu??, global-globalan?? walahhh..wis ra ngerti !!!” mendengar jawaban mereka saya tertawa ngakak..yang bodo itu saya, kenapa bertanya pada mereka wong sekolah smp saja tidak tamat.
Bertolak dari realita seperti itu saya berpikir, bahwa informasi secanggih dan sepenting itu tidak sampai pada pemahaman orang-orang seperti yu Mar, Mbak Ning, Gembes dan kawan-kawannya. Jurnalis sekarang memang pinter-pinter sehingga kebanyakan mereka memaparkan berita dengan menganggap bahwa pembacapun sepintar dia sehingga dapat memahami apa yang meraka tulis.
Padahal kalau kita perhatikan dengan baik-baik bahwa para penjual kaki lima seperti mereka juga turut andil dalam pemeliharaan lingkungan, saya contohkan seperti ini :
yu Mar menjual nasi mangut, nasi pecel dan nasi campur, minuman jus yang instan dengan bungkus aluminium, jika anak-anak sekolah yang beli dikemas dalam plastik, juga menjual aneka snak dalam kemasan aluminium seperti chiki, taro, permen dll. Setiap hari sampah yang dihasilkan dari aktifitas berjualan tersebut sekitar dua keranjang besar yang terdiri dari sampang bekas sisa nasi dan sayuran, bungkus-bungkus aluminium, plastik. belum lagi kalau ada gelas yang pecah, yang kesemua sampah tersebut tidak dipisahkan oleh yu mar.
Bayangkan itu masih satu penjual nasi kaki lima setiap harinya menghasilkan dua keranjang sampah, bagaimana jika 10 penjual, berapa sampah yang dihasilkan tiap harinya??, 100 penjual?? 1000 penjual??
Sampah-sampah tersebut dijadikan satu, kita tahu bahwa tanah tidak bisa mengolah aluminium, plastik dan benda-benda non organik lainnya, betapa kasihannya bumi kita.
Kita ibaratkan bumi adalah tubuh kita, secara tidak sengaja kita menelan uang koin (biasanya masa kanak-kanak) koin tersebut tidak bisa dicerna oleh lambung kita, tentu saja akan mengakibatkan perut kita kesakitan luar biasa, seperti halnya bumi kita juga akan kesakitan ketika diharuskan menerima sampah plastik, aluminum, dan pecahan gelas.
Saya sering protes sama yu Mar dan Mbak Ning menyuruh mereka memilah sampah organik dan non organik wong punya 2 tempat sampah besar, tidak digubris blas dengan alasan tidak sempat milah karena pembeli yang banyak, atau mungkin pemahaman mereka belum sampai pada issu pemanasan global.
Dan pagi ini, karena ingin menyampaikan data-data global warming sesuai dengan pemahaman mereka, sebelum berangkat kantor saya mampir ke warung yu Mar dan mbak Ning, “Yu Mar !! nih hari ini Kompas nulis tentang pemanasan global, yu Mar bisa ikut bantu biar bumi tidak panas, caranya ya seperti yang saya bilang tempo hari, sampah-sampah dipisahin, yu Mar kemarin kan juga bilang kalau sekarang udaranya tambah panas padahal musim hujan, itu bisa juga diakibatkan karena sampah yu “. Jawab yu Mar cukup singkat ” oalah bu, sek to, kulo jek repot buka warung”.
Dengan gondok saya bilang ” yo wis, nanti tak jelaskan pulang kantor, wis gak repot kan?”.
Sambil berangkat menuju kantor, saya tersenyum dalam hati, hari ini saya punya target 1 orang untuk saya ajak bersahabat dengan pemulung.
gak sApiWi
Waktu pulang kemarin saya melihat banyak sekali sapi diangkut dengan truk. Mau tidak mau saya harus tetap melihatnya untuk sekian menit karena truk bermuatan sapi itu ada tepat didepan bus saya.
Sapi-sapi terlihat berdesak-desakkan didalam bak truk tersebut, tidak tahu berapa jumlahnya tapi saya yakin lebih dari 10 ekor. Melihat matanya saya seolah dapat mengerti apa yang mereka rasakan, perut yang sakit menahan himpitan perut teman-teman disebelahnya, kaki yang pegel karena sudah entah berapa lama berdiri, di tambah lagi pegel menahan tubuhnya sendiri yang gemuk supaya tidak jatuh karena goncangan truk yang keras di jalan bergelombang.
Saya tanya pada pak sopir mau dibawa kemana sapi sebanyak itu, rupanya mau dijual untuk persiapan hari raya qurban. Dalam hati saya ikut nelangsa, jadi beginikah awal mulanya nasip para sapi sebelum dia dibuat qurban dia harus terlebih dahulu berkorban dalam perjalanannya, diperlakukan tidak “sapiwi”.
Saya pernah baca diinternet tentang adanya penghargaan terhadap binatang , yaitu di Uni Eropa secara resmi pada tahun 1997 telah mengakui bahwa binatang itu mempunyai perasaan sehingga binatang harus diperlakukan sebagai “makhluk hidup” terpisah dari produk pertanian atau peternakan. Artinya dalam hal produk pertanian atau peternakan misalnya terong dan telur pada saat pengangkutan (transportasi) boleh dijejal-jejalkan dalam peti atau kardus akan tetapi tidak dalam hal yang diangkut adalah binatang.
Konsekwensi dari pengakuan tersebut di Eropa menerapkan sanksi hukuman bagi pengemudi yang tidak mengindahkan aturan tersebut misalnya menjejal-jejalkan binatang dalam satu alat angkut, tidak melengkapi dengan air atau makanan, bahkan juga tidak memberi kesempatan binatang yang diangkut tersebut untuk beristirahat.
Seandainya sapi-sapi yang saya lihat kemarin diperlakukan sebagaimana sapi di Eropa mungkin pandangan mata sapi-sapi tersebut akan lebih ceria karena masih dapat bersenggol-senggolan dengan sapi lain dalam bentuk canda, tidak kesakitan karena saling terhimpit.
Seolah mendapat pesan dari sensor mata salah satu sapi yang tepat menghadap saya untuk minta tolong,(yang membuat saya ingin menangis karena tidak dapat menolongnya), saya memberi semangat pada pak sopir untuk mendahului truk tersebut karena tidak tahan melihat pandangan mata sapi yang memelas.
dalam hati saya berpesan :
“hai para sapi….., tabahkan hatimu karena kalian hidup di Indonesia yang belum mengakui perasaanmu”
saLam buDaYa salAm inTeleKtuaL
Jogja..Jogja..Jogja..belakang kosong..belakang kosong ..dengan berlari saya mengejar bis patas jurusan Jogja bersama calon penumpang yang lain, karena hari Sabtu jadi banyak penumpang yang mencintai dan menunggu kedatangan bis tersebut…sambil senggol sana sruduk sini saya akhirnya berhasil masuk ke dalam bis..
lohhh..kok bis patas Eka jadi sumpek gini..saya baru nyadar bahwa ternyata salah masuk bis, yang ini Mira ekonomi, tak dapat berbuat apa-apa saya memutuskan untuk tetap ikut bis ini dengan resiko berdiri sampai Jogja.
jaLan waKtu 19
saat jam 12,37 kamu datang, hati terasa meledak dengan rasa gembira membuat sesak nafas, secepatnya kluar dengan menabrak pintu dan orang hampir tersungkur, mesti disumpahi tapi masih bisa tertawa hingga membawa tanya dimata orang itu, saat ini aku tak peduli, secepatnya berlari menuju mobil, tangan dan kaki gemetar segera ingin melihat senyummu, hingga memasukkan kunci ke lubangnya terasa sangat susah harus mengulang sampai puluhan kali, menambah kegugupanku,… lalu ngebut dijalan, mengapa jalan yang sudah ribuan kali kulewati ini jadi terasa padat sekali, kenapa hari ini harus padat lalulintasnya ?, kenapa bukan besok saja?, sekarang aku ingin cepat sampai rumah, serasa berjam-jam dijalan yang hanya satu kilometer jaraknya…ya Tuhan..inikah rasanya kangen? inikah rasanya rindu?
dan…ciiiitttt..sampe dirumah, ribuan nafasku berlari berebutan ingin keluar saat melihat senyummu ada di ujung pintu, (senyum yang dahulu membuatku jadi sombong karena tak ingin melihat senyum yang lain), aku tak bisa keluar dari mobil karena kakiku serasa jadi ribuan ton beratnya, sampai akhirnya pintu mobil terbuka dan suara tawamu yang merdu menerobos masuk gendang telingaku, menyadarkanku, ada kamu dihadapanku..setelah puluhan tahun tak lagi kulihat matamu yang teduh.
kemudian 19 jam bersamamu, memelukmu, mencium harum tubuhmu, tak perlu banyak berkata, karena setiap tatapanmu merangkai ribuan cerita, dan aku tersadar hati ini telah menjadi milikmu, meski mungkin rasamu tak sama, tak apa..
lalu dipagi yang bening dengan cahaya mentari yang masih sedikit kupandangi wajahmu bermaksud melukisnya didalam hati, supaya tak perlu repot lagi jika nanti menjadi kangen, karena sejak hari ini pasti setiap detik akan merasa ingin bersamamu
dan akhirnya seperti ditepi batas waktu saat melihatmu beranjak pergi, kudekap hati dan mulutku dengan kuat supaya tak terlontar kata ‘tetaplah disini’, tak boleh rapuh, karena Tuhan dan keadaan masih bersahabat denganku, kelak pasti kamu datang lagi, memberi sebuah lambaian tangan.
adanya hari itu pasti kutunggu…
seperti bukit itu yang selalu menunggu bibir mentari rebah di peluknya..

kemBali bOcah
hari kemarin
saat bertemu dengan cinta pertama
merasa seperti bocah yang otaknya terbelah
senyum-senyum sendiri
dan berjingkrak-jingkrak
terkadang akal selalu menyesatkan
tetapi hati tak pernah berkhianat
dan sekarang tanpa nafas
aku bisa hidup beberapa detik
tapi tidak tanpamu
karena aku bergerak dengan nafasmu

maWar diatAs baTu
berlarilah ke arahku
supaya kita dapat berjalan bersama
sambil berpegangan tangan
bersama menapakkan kaki-kaki kita dipasir
hingga meninggalkan jejak-jejak langkah berdua
lalu lima belas tahun kemudian
kita dapat melihatnya lagi
jejak-jejak kaki kita menjadi batu
dan tumbuh puhon mawar diatasnya
karena cinta kita telah terjebak di jejak itu
hingga yang tak mungkin menjadi ada

sePerTi poHon jAti
ketika menatap wajahnya
dan melihat sepasang mata penuh pengharapan
dan kecemasan dalam hatinya
akan hidup dimasa datang
hati menjadi resah
antara harapan dan sesuatu yang harus dijatuhkan
hanya bisa memberinya senyuman
supaya dapat membuat tegar
berharap atas apa yang terjadi padanya
bisa membuatnya berbesar hati melihat masa lalu
jangan merasa hati menjadi sakit
atau bahkan merasa luka
jadilah…..
seperti pohon jati di musim kemarau
yang rela menggugurkan daun daunnya
untuk bertahan hidup
meski berat harus tetap terjadi
meski luka harus tetap bertahan

menyesal
menyesal menghilang darimu
hingga membuatmu terluka
dan membenci tahun tahun kita bertemu
karena selalu menggunakan logika
untuk berpikir
menalar
sehingga bertemu dengan orang yang salah
kemudian bertahun tahun melewati sepi
melalui rasa sakit
meninggalkan luka yang tidak mungkin
terhapus oleh waktu
mungkin ini memang rencana Tuhan
untuk semakin mendewasakan
bahwa cinta
harus menggunakan hati
dan perasaan
…….
baru sekarang menyadari
betapa berharganya seseorang
yang pernah datang mengetuk
pintu hati
tak bersatu

kamu pasti awan dan angin
karena sulit kuraba
sia-sia saja merindukanmu
meski begitu tak pernah menyesal
meraih pesonamu lalu jatuh kekaguman panjang
mungkin dunia kita berbatas angan
juga berbatas rasa
-
Archives
- December 2009 (2)
- November 2009 (3)
- October 2009 (1)
- September 2009 (2)
- August 2009 (1)
- July 2009 (1)
- June 2009 (4)
- May 2009 (7)
- April 2009 (4)
- March 2009 (6)
- February 2009 (5)
- January 2009 (5)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


