……

apakah masih benar mempertahankan rasa rindu yang telah teraniaya

Mario Teguh vs Hiccup Horrendous Haddock III

“misi-misi….kosong ya” dengan suara keras yang cukup mengagetkan saya yang sedang asyik membaca novel hiccup, seorang ibu muda menyapa sambil menunjuk kursi disebelah saya, “ohh, .. monggo silahkan” dengan cepat saya menggeser pantat mendekati jendela bis.

Sambil memasukkan tas bawaannya ke kolong kursi bis dia sempat nyletuk “baca novel apa”, kemudian duduk dan memangku anaknya.

Karena terpesona keramahannya saya diam saja sambil memandang wajahnya, dan tanpa disangka dia membalik novel yang sedang saya baca seraya bergumam “hao tu spik dragones” (how to speak dragonese)

Waduhhh waduhhh … empat tahun perjalanan dengan bis ini setiap minggu saya tak pernah bersanding dengan penumpang yang gak sopan kayak gini, sedikit kesal karena terganggu membaca, saya memandang wajahnya, dan belum sempat saya membuka mulut, si ibu sudah ngomong lagi : “cerita tentang apa ini, apa ada pelajaran yang kita petik dari membaca buku ini ?”, dengan wajah bertanya dia memandang saya

thuing…thuing… radar penasaran saya mulai berkedip,, dengan meluruskan badan saya mulai ngomong : “maksudnya gimana buk?, pelajaran apa? Ini cerita fiksi kok, tentang Hiccup Horrendous Haddock III seorang pahlawan dan bajak laut Viking yang sangat cerdik, pemberani, tangguh dan tak terkalahkan”

“oowww” dengan muka sedikit bingung dia berkata lagi “itu cerita anak-anak ya?”, kemudian sambil menurunkan anaknya, si ibu merogoh tasnya dibawah kursi lalu mengeluarkan sebuah buku dan menunjukkannya kepada saya buku bersampul tokoh motivasi Indonesia ternama Mario Teguh berjudul “One Million 2ND chances”

Yaaaaiiii…..saya berteriak kagum dalam hati, ibu muda dengan anak yang masih kecil bacaannya Mario Teguh, semakin penasaran saya bertanya “isi buku ini apa buk” Dengan membetulkan anaknya yang melorot dipangkuan si ibu mulai bercerita : “ saya suka baca buku-buku motivasi, karena bisa membangkitkan semangat, ada pelajaran yang bisa kita petik, kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, buku ini belum habis saya baca, tapi intinya menceritakan bahwa jangan mengeluh dan putus asa jika kita mengalami banyak kesulitan dalam hidup, karena jika kita bisa mengupayakan yang terbaik dari yang bisa kita lakukan dalam keadaan sulit maka kesulitan bisa berubah menjadi hadiah yang terbaik bagi kita, buku-buku motivasi kayak gini penting loh dijaman sekarang yang serba sulit ini, liat ajah tuh anak-anak muda (omong bisik-bisik sambil menunjuk pengamen yang sedang menyodorkan tangannya pada penumpang untuk upah nyanyinya), masih kuatkan kalo bekerja dengan mengandalkan otak dan ototnya, tapi mereka malah memilih cara yang gampang, trus mau jadi apa masa depan mereka?”

 “ho oh” saya nyletuk tanda setuju.

“makanya jangan sering baca buku-buku kayak gini, ndak ada manfaatnya” si ibu melanjutkan

Oww….oww…kalimat terakhir ini yang saya tidak suka, terkesan mengambil kesimpulan hanya dengan melihat kulitnya, satu hal yang paling tidak saya suka

“ehh..jangan salah menilai ya, tidak semua buku fiksi tidak ada manfaatnya, contohnya buku ini Hiccup Horrendous Haddock III, seorang bajak laut dan pahlawan Viking yang pemberani, cerdik, tangguh tak terkalahkan, saya udah baca semua buku hiccup sampe seri yang keenam, ada pelajaran yang bisa kita petik disitu yaitu bahwa seorang pahlawan tidak mesti harus bertubuh kekar dan kuat, seorang yang kurus keringpun bisa menjadi seorang pahlawan jika dalam jiwanya terdapat keberanian, cerdas dan setia kawan, dalam buku-buku hiccup kita diajarkan untuk tidak cepat menyerah dan kesetiakawanan, so… biar cerita fiksi yang koyolpun jika bisa jeli menghayati ceritanya kita bisa mengambil pelajaran dari bacaan tersebut”

“saya sudah banyak baca buku motivasi, dari Bagaimana Berjiwa Besar sampe ESQ,, semuanya bagus-bagus, tapi belum tentu bisa membuat kita termotivasi merubah pemikiran dan pandangan hidup setelah membacanya, tergantung pada niat kita masing-masing, ibu….bagi saya yang bisa memotivasi saya ya diri saya sendiri, tidak tergantung pada buku” saya mengakhiri protes dengan senyuman kepada si ibu.

“coba lihat bukunya ya” dan tanpa permisi si ibu langsung saja mengambil novel yang sedang saya baca, kali ini saya tidak lagi gondok. Selang beberapa menit si ibu tertawa cikikian sendiri sambil sesekali membetulkan kepala anaknya yang tertidur.

Saya tersenyum sambil menyandarkan kepala di jendela bis melihat awan, angin yang masuk membuat mata mulai terasa berat,

Goyangan di lengan membuat saya tersadar dari tidur ayam.

“sudah sampe solo, bukunya lucu ya, bagus juga, makasih ya” kata si ibu sambil menyodorkan novel saya.

Sebelum berkemas-kemas mengambil tasnya saya pegang pundak si ibu “seandainya di Indonesia ini ada banyak ibu-ibu yang berpikiran positif dan suka membaca seperti ibu, pasti anak-anak Indonesia lima tahun kedepan lebih kreatif berkarya dan pengamen-pengamen muda sudah banyak berkurang” sambil tersenyum saya menyalaminya.

Uff… dengan langkah ringan saya mencari bis lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah dengan Hiccup Horrendous Haddock III di tangan.

satu lagi pesan : jika sedih bacalah buku-buku koyol dan lucu, pasti kesedihan dan duka nestapa akan lenyap (sejenak :D )

awan

Awan, kamu ibarat udara, aku begitu membutuhkan

air

Kurasa derasnya airmata ini mengalahkan derasnya hujan diluar jendela bis

jarak bulan terpendek

Maret ini
Ingin duduk diam disampingmu awan
Sambil memandang bulan
Karena bulan berada dekat dengan kita sekarang
Duduk diam saja
Memandangmu dalam cahayanya
Tak bergerak karena takut
Takut kau menyadari adaku
Karena bisa membuatmu pergi
Maret ini
Hanya ingin duduk diam memandangmu awan

tentang hati

Hati itu tidak seperti kompor yang bisa dinyalakan dan dimatikan sewaktu-waktu

keReta pertaMa

keretamu, karena aku ada didalamnya, sampai mana? kujawab masih jauh, sengaja supaya kamu juga merasakan hati yang gelisah menunggu jumpa

langit biru, tapi ada rintik hujan diatas bukit, terasa dingin kurapatkan jaketku

kamu, dalam anganku, seperti sebuah kereta yang terus berlari, tak bisa berhenti, meski banyak keluhan pada kereta pagi hari, masih tetap mencari

kereta ini, hari ini, perjalannanku yang pertama menuju pelukmu, gembiraku bercampur dengan dengkuran penumpang sebelah, tak mengapa, malah menambah inginku segera sampai melihat hitammu, lalu menatap langit berbantal lenganmu

malam, datang bersamamu, menggandengku menuju tawamu, ada banyak mata memandang, tak usah digubris, sebanyak tanya apapun yang membingungkan, mari kita duduk saja menikmati debu dan asap, kemudian bintang bermunculan menatap kita

kamu dan aku, dua bentuk, dua tubuh, tapi satu jiwa, bersatu dalam panas yang membakar hangat menyenangkan, hanya terdiam menikmati hening dan lampu temaram, kalau sudah begini tak ada soal jika akal, pikiran dan nurani harus pergi

pagi, kubisikkan rahasia pada telingamu, tentang perjalannan menuju hati itu menyenangkan, pesanku jangan mengatakan pada siapapun, kamu memelukku dan kudengar degup jantungmu berirama, kunikmati senandungnya, menggumamkan pesan sebagian degupnya adalah milikku

kereta menunggu, lalu…lalu merenggutmu dari dekapanku, tapi tak mengapa, karena kamu yang kucintai membelaiku kemarin, dan sekarang aku harus pergi, tak perlu khawatir, karena telah kuselipkan banyak cinta dibantalmu tadi malam

berlalu, portal perlahan menutup

tanpa rem

seperti sepeda yang remnya rusak
aku tak bisa berhenti
berhenti memikirkanmu

jAdi maNusia

menjadi manusia baru bisa merasa rindu

karena hanya manusia yang bisa merasa rindu

meski begitu harus ditahan

meski hujan deras harus tetap berjalan

supaya tidak sia-sia menjadi manusia yang merasa rindu

karena butiran airnya berasal dari awan

a w a n itu ada

menuliskan namamu di seluruh permukaan lampion
lalu menerbangkannya supaya dapat bertemu dengan awan
semoga awan dapat membacanya
kemudian menuliskan
bahwa awan juga kesepian dan rindu
kalau sudah begitu tiupan doaku tidak lagi sia-sia

dan awan tak lagi berwarna kelabu

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.