keretamu, karena aku ada didalamnya, sampai mana? kujawab masih jauh, sengaja supaya kamu juga merasakan hati yang gelisah menunggu jumpa
langit biru, tapi ada rintik hujan diatas bukit, terasa dingin kurapatkan jaketku
kamu, dalam anganku, seperti sebuah kereta yang terus berlari, tak bisa berhenti, meski banyak keluhan pada kereta pagi hari, masih tetap mencari
kereta ini, hari ini, perjalannanku yang pertama menuju pelukmu, gembiraku bercampur dengan dengkuran penumpang sebelah, tak mengapa, malah menambah inginku segera sampai melihat hitammu, lalu menatap langit berbantal lenganmu
malam, datang bersamamu, menggandengku menuju tawamu, ada banyak mata memandang, tak usah digubris, sebanyak tanya apapun yang membingungkan, mari kita duduk saja menikmati debu dan asap, kemudian bintang bermunculan menatap kita
kamu dan aku, dua bentuk, dua tubuh, tapi satu jiwa, bersatu dalam panas yang membakar hangat menyenangkan, hanya terdiam menikmati hening dan lampu temaram, kalau sudah begini tak ada soal jika akal, pikiran dan nurani harus pergi
pagi, kubisikkan rahasia pada telingamu, tentang perjalannan menuju hati itu menyenangkan, pesanku jangan mengatakan pada siapapun, kamu memelukku dan kudengar degup jantungmu berirama, kunikmati senandungnya, menggumamkan pesan sebagian degupnya adalah milikku
kereta menunggu, lalu…lalu merenggutmu dari dekapanku, tapi tak mengapa, karena kamu yang kucintai membelaiku kemarin, dan sekarang aku harus pergi, tak perlu khawatir, karena telah kuselipkan banyak cinta dibantalmu tadi malam
berlalu, portal perlahan menutup